Oleh : Masimantap Habeahan
Sore menuju malam hari, mendengar suara jangkrik yang berbunyi. saya tidak mengetahui dengan pasti dimana letak jangkrik tersebut. Saya cari di sudut kamar tak ada. Eehh, setelah saya buka pintu kamar rupanya jangkrik itu diluar. Dan saya terkejut rupanya siang hari cukup cepat bergerak menuju malam hari. Saat itu pula, SAYA HARUS OLAH RAGA DENGAN NAIKSEPEDA. Naik sepeda berlari dengan cepat.
Perasaan ada yang kurang, kata hatiku. Karena tidak biasanya sepeda ini menari – nari sembari berjalan di jalan yang rata. Setelah itu, saya berhenti sejenak untuk memeriksa sepeda tersebut. Setelah saya amati, saya panot-noti ternyata ada baut yang longgar pada roda depan yang menghubungkan shock-absorber dengan roda depan. Kemudian saya kencangkan baut itu tanpa bantuan dan perjalan untuk melanjut olah raga saya mulai lagi.
Tiba – tiba tanpa sepengetahuan akal sehat ku, sepeda ini menari – nari lagi, dan sudah agak malas untuk berhenti, apalagi memeriksa sepeda ini. Ah.. saya teruskan aja deh. Dan berjalan kira – kira 500 meter lagi. Gedorrrrr……. Kata sepeda ini, dan saya pun terjatuh……. ban sepeda entah kemana perginya. Kemudian, saya berdiri rupanya ban sepeda ku masuk kerumah orang lain (namanya disamarkan). Sepeda ini tinggal hanya satu roda dan saya anggkat ke tepi jalan supaya tidak mengggu orang lain.
2 meter lagi saya berpikir untuk masuk dan permisi mengambil ban sepeda yang tadi masuk kerumah bapak itu. Karna saya mendengar mereka lagi berantam. Bahkan saya mendengar tamparan yang kuat ke wajah istrinya. Saya pun tak habis akal : saya langsung manjat jendela untuk melihat keadaan si ibu (istri sibapak yang menampar itu), PAS… tamparan balik, PISS... saya tak tahan mendengar dan melihat tamparan itu, hatiku makin panas lihat sang suami yang menampari isterinya, tangan ku mulai gatal ingin menghajar balik sang suami itu tapi saya tak berhak tuk menghakimi.
Bertekad untuk masuk mendamaikan SUAMI/ISTRI itu, lalu saya menenangkan hati dan berdoa, agar saya dapat mengambil ban sepeda itu dan mendamaikan mereka. Namun, rasa pesimis selalu ada tapi lebih kuat rasa optimis. Prinsip itulah yang membuat saya untuk tetap masuk kedalam rumah dengan alasan jika di Tanya, untuk mengambil ban sepeda ku yang masuk kedalam.
Dengan kondisi, si ibu sedang menangis akibat tamparan suaminya pake sepatu warna hitam saya memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Dari pintu depan saya berkata :
Permisi pak…. Permisi pak…. Sampai 5 x saya panggil suara ku belum ada fecdbacknya. Tapi suara si ibu makin kecil volumenya setelah mendengarkan suara dari saya, entah mereka dengar saya kurang tahu.
Permisi pak… dengan suara yang lembut, 2 x lagi,, permisi pak,, dan sang suami ibu tersebut menjawab dengan gaya bahasa yang arogan : MASUK………… !
Dan saya membrikan alasan kepada sang suami ibu itu : pak, sepeda saya patah shocknya, jadi ban (rodanya ) berjalan kerumah bapak. TAPI TIDAK ADA SAYA LIHAT MASUK KEDALAM RUMAH INI !!!! Jawab sang suami ibu pada saya. Kemudian saya tetap tenang menghadapinya. Lalu dengan kalimat yang lembut saya menjawab : itunya pak, pas dibelakang bapak.. entah kenapa si ibu langsung terseyum siput.. dan saya pun bahagia lihat senyum si IBU itu.
Karena ibu itu melihat darah yang ada pada tangan kiri ku, si ibu langsung mengundang saya untuk duduk di bangku sofanya. (mungkin si IBU itu bersyukur atas kedatangan saya, karna si bapak tak menamparnya lagi). Rupanya ibu ini seorang dokter punya anak perempuan 3 kuliah di salah satu perguruan tinggi USU. 2 orang jurusan FKG dan 1 orang FKM. Kemudian saya Tanya lagi pada ibu (sembari ibu mengoleskan kapas pake arkolhol yang pedas ke tangan saya), KENAPA si bapak menampari ibu tadi. Kemudian si ibu menjawab dengan wajah yang sedih : sudah menjadi kebiasaan ku nak seperti ini.. ga boleh gitu bu… jawab ku.. kemudian si bapak melihat ku terus menerus dari jendela belakang.. saya sempat mau pulang, karena takut.. lagian juga sudah pukul 11 malam.. namun apa yang saya pikirkan tentang sibapak yang menampari si Ibu itu,, berbeda.. dan mengalami perubahan. Dan sibapak mengambil segelas air putih untuk saya minum (karna sibapak juga bersyukur atas kedangan saya, emosinya terkontrol saat saya datang) dan SEGELAS air putih itu, diletakkan di atas meja tempat saya curhat dengan ibu itu…
Pukul 12 malam, kami masih tetap bercerita – cerita, dan saya bertanya kepada mereka : bu.. pak.. kog bisa tadi klian berantam? Mereka pun saling melihat. Dan si ibu duluan menjawab.. udalah nak, ga usah di bahas lagi.. heheheheheee kami pun tertawa bersama.. setelah tertawa suami istri itu : ketiga anaknya tiba di rumah karena pulang liburan dari tempat liburan yang di tebing.. dan ibu bapanya menyambut mereka seakan tak ada masalah… fantastis bukan????? Hahaaa
Si ibu memperkenalkan saya pada ketiga anaknya : saya pun menyalami nya dengan sukacita. Tapi lucunya : si ibu bilang anak ibu no 2, belum punya PACAR (menurutku jadi lari pembicaraan haahaha) saya da ada yang punya bu,, kubilang ma ibu itu..… … ah, ahahaaaa tawa kami bersama… .
INTINYA : saya membawa damai kepada MEREKA BERDUA, walaupun mereka tidak menyebutkan sebab akibat dari masalah mereka pada saya.
Walaupun saya terjatuh, dan ban sepedaku lari dari casis nya saya tetap bersyukur karena dibalik semua itu ada pelajaran yang baru dan pengalaman yang tak bisa di lupakan… selamat malam ibu… saya pulang karena saya masih mengerjakan SIKRIPSI saya… hehheheeh….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar