Oleh : Masimantap Habeahan
Siapa yang tidak rindu ketika sahabat –
sahabat pada masa kekanak – kanakan hilang kabar selama belasan atau puluhan
tahun. Mungkin kita pernah merasa rindu ketika sahabat dekat pergi meniggalkan kita selama 5 tahun. Tetapi
Puisi ini mendeskripsikan betapa rindunnya seseorang menantikan sahabat
dekatnya diwaktu kecil untuk kembali. Dan dalam puisi ini juga digambarkan
bahwa sahabatnya tersebut tidak kembali walaupun belasan tahun telah
terlewatkan. Entah dimana dan sampai kapan berjumpa lagi dia pun tidak
mengetahuinya dengan pasti. Namun dalam akhir puisi ini ada harapan serta doa
agar mereka bertemu lagi dan kata terkhir dia mengucapkan, semoga kita dalam
lindungan Tuhan.
Teman!
Masih ingatkan?
Waktu kita masih kekanak – kanakan?
Kita Lucu – lucuan,
Pukul – pukulan
Main hujan – hujanan,
Dan kita pun kedinginan
sesudah mengakhiri
permainan
dihalaman rumah depan.
Teman !
Waktu kita
masih Sekolah Dasar dulu kau berantakan
Juga ingus –
ingusan
Dan semua menertawai
mu, yah : …. Siapa lagi kalau bukan teman kita kan?
Kemudian,
Kita pulang
sekolah beramai – ramai berjalan,
Sambil tarik –
menarik walaupun panas terik menelan
Dan kitapun tertawa habis – habisan
Lama – kelamaan kita mengakhiri
perjalanan
Kemudian,
sampai dirumah dan kita lahap saat makan.
Delapan
belas tahun telah terlewatkan….
Sekarang
kau dimana Teman?
Apakah
kau telah lupa dengan kata – kata yang telah kau ucapkan?
Apakah
kau telah melupakan saat kita menegakkan benang basah di tepi perairan?
Aduh,
kalau memang kau harus melupakan
Kalau
mamang kau harus membiarkan
Aku tak
sanggup, aku tak sanggup dengan semua ini tuk menahan
Menahan
rasa rindu dan sedih yang berkepanjangan
Dimana pun kau dan aku Teman !
Semoga ada waktu dan tidak ada
hambatan!
Tuk mangawali perjumpaan
Perjumpaan dengan hati yang gembira,
bukan dengan kesedihan!
Dimana
pun kau dan aku teman!
Kita
tetap dalam lindungan Tuhan
Selamat berjuang teman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar